Plasmodium falciparum

Posted by Red White Science on Saturday, March 23, 2013



Plasmodium falciparum


P. falciparum adalah protozoa parasit, salah satu spesies Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Protozoa ini masuk tubuh manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina. P. falciparum menyebabkan infeksi paling berbahaya dan memiliki tingkat komplikasi dan mortalitas malaria tertinggi. Semua jenis plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu sebagian di dalam tubuh manusia atau human (siklus aseksual) dan sebagian di tubuh anopheles (siklus seksual),  Siklus yang kedua yaitu siklus seksual (sporogoni) dalam tubuh nyamuk sebagai berikut: (1) Siklus ini dimulai dengan nyamuk Anopheles betina menggigit orang yang terinfeksi malaria dan mengambil gametosit plasmodium bersama dengan darah. (2) Gamet akan terbentuk dari gametosit jantan dan betina, sehingga fertilisasi terjadi dalam saluran pencernaan nyamuk tersebut, kemudian terbentuk zigot. Zigot adalah satusatunya tahapan diploid dalam siklus hidupnya. (3) Oocyts yang berasal dari zigot berkembang dalam dinding perut nyamuk. Ribuan sporozoit berkembang dalam oosista dan kemudian bermigrasi ke kelenjar lidah nyamuk tersebut. (4) Nyamuk yang terinfeksi menyengat orang lain, menginfeksi korban dengan sprotozoit Plasmodium Siklus aseksual (skizogoni) pada tubuh manusia ada dua tahap, yaitu siklus hati (fase eritrosit) (5) Pada siklus ini nyamuk betina yang terinfeksi parasit, menggigit manusia dan dengan ludahnya “menyuntik “ sprotozoit ke dalam darah. Protozoit masuk ke dalam sel hati korban mengikuti peredaran darah. Merozoit akan berinteraksi dengan eritrosit yang tidak terinfeksi. Invasi eritrosit oleh parasit malaria merupakan proses yang terdiri tiga tahap yaitu, recognition/pengenalan, attachment/perlekatan, dan proses endositosis. Setelah beberapa hari, sporotozit mengalami pembelahan berkali-kali untuk menjadi merozoit, yang kemudian menggunakan kompleks apikalnya itu untuk menembus sel darah merah korban. (6) Merozoit tumbuh dan membelah secara aseksual sehingga menghasilkan banyak sekali merozoit baru, yang secara berulang-ulang memecahkan sel darah dengan interval 48 atau 72 jam (tergantung pada spesiesnya). Interval demam ini menyebabkan penderita mengalami demam dan menggigil secara periodik. Beberapa merozoit menginfeksi sel darah merah baru. (7) Beberapa merozoit membelah membentuk gametosit, yang menyelesaikan siklus kehidupannya dalam seekor nyamuk betina.
P. falciparum dapat resisten terhadap obat malaria karena mempunyai parasit ada gen yang resisten dan sensitif terhadap obat tertentu, sehingga gen yang satu lebih dominan dari pada gen yang lain. Berdampak menimbulkan adanya galur yang resisten dan sensitif. Teori kedua, gen mengalami mutasi dalam tubuh parasit yang memungkinkan parasit tersebut menjadi resisten terhadap suatu obat dengan dosis tertentu.
Penentuan resistensi atau tidaknya P. falciparum dapat dilakukan dengan cara in vivo dan in vitro. Cara in vivo dapat menunjukkan derajat resistensi parasit yang dinyatakan dalam tiga tingkatan yakni RI (resistensi derajat 1), RII, dan RIII. Cara in vitro hasilnya dinyatakan sebagai sensitifitas atau resistensi parasit, tanpa adanya penjenjangan tingkatan. Kelebihan uji ini pada beberapa jenis obat dapat diuji secara bersamaan.
Keuntungannya, penggunaan biakan memungkinkan untuk mempelajari aktivitas intrinsik obat secara lebih hemat dan lebih cepat, membutuhkan obat dalam jumlah kecil, pengaruh metabolisme hospes dihilangkan, efektivitas obat dapat langsung diamati, memudahkan penapisan obat malaria baru, dimungkinkan pemberian dosis yang tinggi, dan memungkinkan pembuatan vaksin malaria.
Advertisement

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment